Seorang leader memprakarsai proses pembelajaran dan proses perubahan. Menjadi leader sejati berarti menjadi pembelajar … seumur hidup (dari Andrias Harefa dalam Bukunya: Menjadi Manusia Pembelajar).Dalam buku tersebut Andrias Harefa mengajukan hipotesis bahwa manusia dilahirkan sebagai pembelajar "learner" yang dimungkinkan menjadi leader sejati bahkan tumbuh sampai ke tahap manusia guru (master). Dan belajar di sinonimkan dengan berubah, sehingga “proses pembelajaran” diberi makna yang sama dengan “proses perubahan”. Bila seseorang, atau sebuah organisasi tidak belajar maka ia stagnan, status quo, tak berubah. Dan karena perubahan adalah sesuatu yang konstan namun pasti, maka seseorang atau sebuah organisasi yang kurang sekali dalam pembelajaran akan terancam gagal, bangkrut atau "punah".
Agar tidak kehilangan kesejatian sebagai leader, mereka yang menduduki posisi-posisi kepemimpinan dalam organisasi perlu melihat dirinya sebagai longlife learner. “Belajar” bagi true leader (pemimpin sejati) dipahami sebagai proses yang berlangsung seumur hidup, bukan hanya di gedung sekolah/universitas, bukan cuma dalam kelas dan ruang-ruang kuliah atau laboratorium yang steril dari persoalan-persoalan hidup yang nyata. “Belajar” bagi pemimpin sejati adalah di semua tempat, kepada semua orang, dan dalam segala situasi dan kondisi, baik yang menyenangkan, maupun tidak, baik saat dinilai “sukses” maupun “gagal”.
Leader yang menyukai perubahan dapat dipastikan menyukai pembelajaran. Leader yang suka belajar, tidak anti perubahan, tetapi justru memprakarsai perubahan. Ia menggagas visi, “membuahi” realitas masa kini agar “melahirkan” realitas baru di masa depan lebih baik. Ia melakukan reading, listening, thinking, ber-refleksi, bereksperimentasi dan tentu saja bertindak. Ia membangun kultur yang lebih manusiawi dan berperadaban. Ia mengatur strategi, memompakan motivasi daya juang, melayani “anggota tim” yang menyepakati dan menghormati “konstitusi” yang disepakati bersama.
Pembelajar sebagai pemimpin adalah mereka yang selalu mengejar pengetahuan diri self knowledge, dan pengetahuan tentang sesama manusia the other. Pembelajar sebagai pemimpin tak hanya mempelajari teks, tetapi juga menafsirkan konteks ajaran agama dalam mengemban misi sebagai seorang leader. Mereka menyediakan waktu untuk meningkatkan kompetensi teknis dan manajerialnya. Pembelajar sebagai pemimpin selalu mencari kesempatan untuk merenung, melakukan refleksi, tahajud, meditasi, dan berbagai kegiatan mengasah kearifan spiritual-nya spiritual wisdom tak berhenti pada spiritual intelligence.
Leader sejati mengembangkan kesadaran awareness dalam dirinya bahwa tugas pokoknya adalah menciptakan realitas masa depan yang lebih baik dengan cara mengintervensi realitas masa kini sesuai kapasitas dirinya sebagai manusia otentik, unik tak terbandingkan dengan apapun dan siapapun yang bukan dirinya.
No comments:
Post a Comment