Thursday, March 19, 2009

Telepon Rumah, Nilai Yang Terus Meningkat

Jangan tinggalkan telepon rumah. Sekalipun Anda telah memiliki banyak nomor telepon seluler, Anda masih tetap membutuhkan telepon rumah. Apalagi value layanan ini di masa depan akan semakin tinggi. Bila suatu saat Anda mengajukan kredit ke bank, misalnya. Pembayaran tagihan bulanan Anda menjadi salah satu referensi yang dibutuhkan pihak perbankan. Dalam ranah bisnis, telepon tetap memiliki karakteristik yang tidak dimiliki seluler. Seperti suara yang jernih, tidak mudah terputus, cepat tersambung, mendukung teknologi PABX serta facsimili.

Ke depan, telepon rumah akan menawarkan berbagai benefit yang semakin beragam dan boleh jadi tidak akan didapatkan di layanan seluler. Hal ini, barangkali yang mendorong PT Telkom, melakukan revitalisasi telepon rumah. ''Ke depan, value telepon rumah (fixed line) akan tinggi,'' ujar VP Public and Marketing Communication PT Telkom Indonesia, Eddy Kurnia. Eddy mengakui, saat ini telepon rumah setelah tenggelam oleh layanan seluler yang semakin agresif.


Gaya hidup (lifestyle) menjadikan telepon rumah mulai ditinggalkan pelanggan. Indikasinya, tingkat penggunaan telepon rumah terus mengalami penurunan. Pada triwulan ketiga tahun 2008, Telkom mencatat penurunan pendapatan sekitar 12 persen dibandingkan periode sama tahun 2007. Padahal tarif dan pelanggan relatif tetap. Dengan pelanggan sekitar 8,7 juta, hingga triwulan ketiga 2008 pendapatan dari sektor ini sekitar Rp 7,5 triliun atau sekitar 17 persen dari pendapatan keseluruhan Telkom yang mencapai Rp 44,6 triliun.

Guna meningkatkan usage telepon rumah, dilakukan revitalisasi. Seperti memperluas layanan broadband Speedy serta meningkatkan kecepatan transfer layanan ini hingga 1Mbps. Bahkan Telkom tengah merealisasikan konsep tripple play--atau tiga layanan menggunakan satu jaringan-- dengan mengembangkan layanan saluran televisi berbasis Internet Protocol (IP-TV) yang sangat inovatif. Ini berarti selain untuk mendukung kebutuhan komunikasi, telepon rumah bisa dimanfaatkan untuk akses internet dan menikmati televisi layaknya televisi berbayar yang ada saat ini. Dari sisi kualitas, layanan yang memanfaatkan jaringan kabel memang lebih baik dibandingkan dengan layanan nirkabel, seperti seluler atau satelit. Ini, barangkali, value yang bisa dinikmati pelanggan telepon rumah.

Makin agresifnya layanan seluler, rupanya juga menginisiasi Telkom mengembangkan suatu konsep pemasaran yang mendekati layanan seluler. Antara lain menawarkan diskon tarif hingga 70 persen pada jam jam tertentu dan apresiasi kepada pelanggan melalui mekanisme poin. Poin tersebut bisa ditukarkan dengan hadiah langsung, serta diikutsertakan dalam undian dengan hadiah-hadiah seperti Yamaha Mio, Kijang Innova dan Grand Prize Mercedes Benz C Class.

Terobosan lain yang dikembangkan Telkom adalah penerapan konsep flat rate. Suatu program yang memungkinkan pelanggan membayar tagihan telepon setiap bulannya dengan jumlah tetap dan bebas abonemen. ''Pada program ini, pelanggan bisa memilih jumlah tagihan bulanan yang sesuai dengan kebiasaannya bertelepon,'' kata Eddy Kurnia. Untuk menikmati layanan ini pelanggan cukup menghubungi contact center Telkom. ''Silakan telepon ke 147. Selanjutnya petugas akan memberikan gambaran berapa tagihan tetap yang harus dibayarkan,'' papar Eddy.

Penetapan biaya tagihan tetap didasarkan pada data tagihan sekitar delapan sampai 10 bulan, serta profil pembayaran pelanggan. ''Dari data dimaksud petugas kami akan menetapkan berapa tagihan tetap yang harus dibayarkan,'' kata Eddy. Karena merujuk pada data penggunaan pelanggan, maka antara satu pelanggan dengan pelanggan lain akan berbeda-beda. Sistem pembayaran tetap bulanan, ujar Eddy, akan memberikan banyak keuntungan, seperti membayar tagihan dengan jumlah tertentu, untuk penggunan yang tidak terbatas.

Pada pembayaran tagihan sistem lama, pelanggan membayar tagihan untuk penggunaan bulan sebelumnya antara tanggal 1 hingga tanggal 30/31. Besar tagihan bergantung pada penggunaan telepon di tambah dengan biaya abonemen atau biaya berlangganan. Pada sistem ini, dimungkinkan terjadi fluktuasi nilai pembayaran, karena tagihan yang harus dibayarkan bergantung pada tingkat penggunaan. ''Dari pemantauan kami, banyak pelanggan yang enggan menggunakan telepon rumah karena khawatir tagihannya akan melonjak,'' papar Eddy. Kekhawatiran seperti ini yang menjadikan banyak telepon rumah tak lagi dimanfaatkan secara optimal.Karena khawatir tagihan melonjak akibat penggunaan yang tidak terkontrol, banyak pelanggan yang mulai mengurangi penggunaan telepon murah. Di sisi lain, gaya hidup keseharian mendorong orang menggunakan telepon bergerak (mobile), untuk komunikasi yang seharusnya bisa menggunakan telepon rumah, sekalipun harus membayar tarif lebih mahal.

Eddy melukiskan inovasi pembayaran tagihan merupakan kelanjutan dari program revitalisasi telepon rumah. Eddy mengakui pendapatan dari sektor telepon tetap terus mengalami penurunan. Meski terjadi penurunan tetapi Telkom akan mempertahankan dan bahkan merevitalisasi fixed line sebagai legacy business. ''Kami akan pertahankan pelanggan yang ada dan meski angkanya tidak terlalu signifikan. Layanan fixed line masih menunjukan peningkatan, sehingga kami optimis business fixed line masih memiliki masa depan,'' kata Eddy Kurnia.

No comments: