Tuesday, July 14, 2009

IPTV: Unlimited for The Unlimited

Saat ini, televisi digital siaran multicast (bersamaan di satu waktu) menggunakan jaringan IP bukan hal yang mustahil karena teknologi dan model bisnisnya telah menemukan format yang cukup matang. Menghadapi kompetisi ketat dari perusahaan televisi kabel, yang juga menyediakan paket triple-play (data, audio-video, dan interaktivitas), PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk akan berekspansi di penerapan IPTV di Indonesia.


Telkom akan memasuki pasar televisi digital, walau belum jelas apakah model bisnis IPTV di negeri ini bisa diterapkan seperti model yang telah dijalankan di luar negeri. Banyak analis meragukan kemampuan dan potensi pasar IPTV untuk mengembangkan sayapnya, mengingat infrastruktur Indonesia yang belum sepenuhnya terbangun. Selain itu, banyak pakar meragukan kemampuan perusahaan telekomunikasi (”telco”) berkompetisi dengan perusahaan televisi kabel (lembaga penyiaran berlangganan). Masalah lain adalah regulasi yang belum jelas bagi “pemain hibrid” seperti penyelenggara IPTV; apakah masuk domain UU 36/1999 tentang Telekomunikasi (perihal jasa telekomunikasi khusus, tapi bendera IPTV belum dikenal sama sekali), ataukah domain UU 32/2002 tentang Penyiaran (yang tidak dijelaskan di dalam pasal-pasal Lembaga Penyiaran Berlangganan yang hanyak via satelit, kabel, atau terestrial, bukan jaringan menggunakan protokol internet).

Kompleksitas dan dinamika industri telekomunikasi dan penyiaran juga terjadi sebelum fenomena IPTV muncul; yakni saat Kabelvision (sekarang bernama First Media) tampil dengan layanan sambungan internet 24 jam (dengan flat fee).Dalam konteks ini, sebuah model bisnis yang jelas dan komprehensif kemudian menjadi mutlak dibuat oleh operator telekomunikasi seperti Telkom (brand-name: TVision, di bawah bendera PT Indonusa Telemedia, seperti halnya Telkomvision yang berbasis satelit dan kabel).

Perusahaan televisi berlangganan baik via kabel ataupun satelit tidak memiliki definisi ini, karena mereka tak menggunakan jaringan berbasis IP, dan tidak memiliki arsitektur point-to-point. Televisi berbasis web juga tidak termasuk di sini, karena secara layanan, manajemen, platform, dan model pendapatan berbeda. Untuk itu, mari fokuskan ke operator teleponi seperti yang dikaji oleh Limnard & Tee (2007).

Sebagai bagian dari rantai bisnis IPTV, perusahaan teleponi telah mengembangkan layanan TV digital dengan protokol internet; yang dilakukan karena pendapatan dari teleponi konvensional menurun drastis. Dengan menaikkan citra produk mereka dapat menggabungkan (bundling) produk “lamanya” dengan paket layanan yang memang ditujukan untuk pelanggan (baik pasca-bayar ataupun sistem penagihan lain). Mereka juga menggunakan aset untuk mentransformasikan multi-jaringan yang telah mereka bangun menjadi jaringan yang efisien.

Diperkirakan di tahun 2010 IPTV akan lepas landas. Tahun 2025 akan ada satu standar saja untuk cara menonton TV. Itulah IPTV, Internet Protocol Television. IPTV menggunakan semacam dekoder atau set-top box yang tersambung ke broadband interface dan TV. Perangkat ini akan memilih di antara ribuan, bahkan ratusan ribu jam acara, termasuk film, olahraga, acara lama TVRI, dan Anda bisa mengunduh (download) semuanya ke hard drive dari set-top box Anda.

Di awal kelahiran IPTV, hard drive ini mampu menyimpan hingga 300 jam acara dalam satu waktu, namun kapasitas akan berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi. Selain itu, kelak kecepatan mengunduh akan semakin baik di saat koneksi broadband Anda kian prima. Kelak sebuah film berdurasi dua jam akan diunduh dalam 2 menit saja. Di saat itu, menonton film tersebut bisa dilakukan di mana saja, selama ada interface yang sesuai.
Selain kenyamanan atas fasilitas video-on-demand (VOD) ini, IPTV akan memberikan keleluasan perpustakaan acara (content) dari segala genre dan durasi, yang tak pernah diberikan oleh media manapun. Tak ada TV broadcast, kabel, satelit, atau bahkan jasa penyewaan video. Karena semuanya tersedia di internet, yang bersifat tak terbatas dan tak terhalangi, mengunduh film menjadi pengalaman yang bisa jadi membingungkan jika tak tahu apa yang Anda inginkan.

Kebanyakan platform IPTV dibagi menjadi “saluran-saluran” yang mirip dengan saluran yang ada di TV tradisional. Dalam hal ini saluran didefinisikan sebagai bagian dari layanan content provider (penyedia isi saluran). Sebagian content provider akan memberikan gratis, sebagian lain akan meminta uang berlangganan (bulanan atau tahunan), dan sebagian lain dengan sistem pay per view (bayar per lihat) saja. Jasa ini akan di-mix ‘n match sebagai paket operator IPTV.

Di antara yang sudah berjalan, ada PCCW (www.pccw.com), DAVETV (www.davenetworks.com), dan Gizmodo (www.gizmodo.co.uk) milik British Telecom, BrightCove (www.brightcove.com). Raksasa macam AT&T serta Time Warner (www.BusinessLink.tv) baru saja melakukan uji coba. Silakan klik situs mereka untuk tata cara dan model bisnis masing-masing. Daftar ini akan berkembang terus… bahkan bisa jadi sebuah operator IPTV beroperasional di sebuah desa kecil di satu daerah terpencil.

Dua puluh tahun ke depan, semua kehebohan TV broadcast macam RCTI, Trans TV dan lain-lain akan lewat. Nature dari IPTV adalah “Aku mau tontonan yang aku mau saja”, dan kecenderungan ini telah terlihat dari maraknya content musik yang diunduh atau dijadikan ring back tone telepon genggam. Masalahnya sekarang, segala macam jenis tayangan bisa nyelonong masuk ke telepon genggam, ataupun kelak ke layar komputer PC Anda. Televisi satelit dan kabel masih lebih beruntung daripada TV dengan siaran terestrial. Dengan model bisnis yang lebih mendekati IPTV, TV satelit dan kabel akan memberikan kemudahan di saat koneksi internet down. Iklan? Personal, dan lebih terukur (karena identitas penontonnya jelas, ada IP number, bukan?).

Ini dari sisi permintaan, bagaimana dengan sisi penawaran?
Siapapun bisa menyuplai isi siaran bagi apapun saluran yang ada di internet. Banyaknya penawaran juga sebanding dengan banyaknya permintaan? Mungkin juga, karena itu Web 2.0 akan bergerak naik ke Web 3.0 dan menjadi ajang tukar content untuk kalangan tertentu saja. Akan ada bottleneck untuk satu “tayangan” karena sedang trend, ya seperti penggila “Laskar Pelangi”, misalnya. Namun jika kreativitas orang membuat genre apapun dalam bentuk file audio video, yakinlah bottleneck ini akan terurai dengan sendirinya.

Contohnya, peminat Laskar Pelangi hanya memasukkan kata kunci “Andrea Hirata” atau “Laskar Pelangi” saja, dan yang keluar tak hanya film Laskar Pelangi tapi juga kajian ilmiah sastra, jumpa pers penerbit dan pengarang di suatu restoran, diskusi buku terkait karya Andrea Hirata ini, klip lagu yang dibawakan Nidji hingga komentar kerabat Anda di Afrika Selatan setelah menonton film ini.
Unlimited for the unlimited.

Source: http://ameliadya.wordpress.com/iptv/


Thursday, June 11, 2009

Penebang & Kapak "Yang" Hilang

Dijaman dulu, ada seorang penebang kayu. Suatu hari dia kehilangan kapaknya, dan tanpa kapak dia tidak bisa bekerja. Dia mencurigai tetangganya yang mencuri kapaknya. Pagi itu ketika sang tetangga berangkat, dia menutupi peralatan kerjanya dengan kain, rasanya kapaknya pasti disembunyikan disana, apalagi tetangga ini senyumnya terasa tidak tulus. Pasti dia pencurinya.

Besoknya, bahkan terasa jadi ramah berlebihan karena biasanya jarang menyapa, kali ini menyempatkan berbasa basi. Apalagi dilihat hasil tebangan kayunya 2 hari ini banyak sekali, pasti dia menebang menggunakan kapak curiannya. Semakin dipikir semakin yakin.

Pada hari ketiga baru disadari ternyata kapaknya tersimpan dilaci dapur. Istrinya yang sedang keluar kota menyimpankan disana. Senang benar hatinya karena kapaknya dapat ditemukan kembali. Dia amati lagi tetangganya yang lewat, dan dia merasa tetangga ini tidak berkelakuan seperti pencuri, dan senyumnya juga tulus tulus saja. Bahkan percakapannya terasa sangat wajar dan jujur. Dia heran kenapa kemarin dia melihat tetangganya seperti pencuri?


Persepsi membentuk kenyataan, pikiran kita membentuk sudut pandang kita. Apa yang kita yakini akan semakin terlihat oleh kita sebagai kenyataan. Sebagai contoh, apapun yang dilakukan orang yang kita cintai adalah baik dan benar. Anak nakal dianggap lucu, kekasih medit dianggap berhemat, orang cerewet dibilang perhatian, keras kepala dibilang berprinsip, dan makanan tidak enak dibilang bergizi.

Hidup tidak pernah dan tidak ada yang adil, tidak ada benar salah, kita ciptakan sudut pandang kita sendiri. Perception creates worldview, we create our own reality. Kita menemukan apa yang kita ingin temukan. Apa yang terlihat bukan kenyataan, kenyataan adalah siapa kita dan bagaimana kita memandang semuanya itu. Pandangan kita berubah mengikuti perubahan jaman dan keadaan. Segalanya mengalir pada ruang dan waktu.

Disadur dari update FB Tanadi Santoso.

Tuesday, May 12, 2009

Sekantong Tahi Sapi - Oleh Gede Prama

Bayangkan di suatu pagi, ada seorang tetangga yang memberi Anda sekantong tahi sapi. Tanpa basa basi, langsung saja kantong tadi diletakkan di depan rumah.

Bagi mereka yang sentimen dengan tetangga, mala petakalah akhir dari kejadian ini. Namun, bagi mereka yang menempatkan pemberian sebagai sebuah kemuliaan, maka tahi sapi tadi bisa menjadi awal persahabatan.

Nah, Anda dan saya juga sedang diberi tahi sapi (baca : krisis). Persoalannya, apakah krisis ini akan menjadi awal petaka atau awal kemajuan, sangat ditentukan oleh bagaimana kita menempatkan krisis. Salah satu karya terbaik Deepak Chopra adalah Ageless Body, Timeless Mind. Di sini penyembuh ini bertutur tentang bagaimana hidup awet muda. Fundamental dalam tesis Chopra, tubuh ini terbuat dari pengalaman-pengalaman yang didagingkan (dimasukkan ke dalam tubuh).

Sebagai salah satu bukti dari tesis terakhir, Chopra mengutip pengalaman seorang Ibu yang baru menerima sumbangan jantung dari orang lain. Begitu keluar dari rumah sakit, sang Ibu meminta dua hal yang tidak pernah disukai sebelumnya : bir dan ayam goreng. Setelah diselidik, ternyata donatur jantung yang telah meninggal, memiliki hobi berat meminum bir sambil memakan ayam goreng.

Pengalaman terakhir mengingatkan kita dengan pendapat Norman Cousin yang pernah menyebut bahwa “kepercayaan itu menciptakan biologi“. Ini berarti, garis batas antara biologi dan psikologi sebenarnya sangat dan teramat tipis - kalau tidak mau dikatakan tidak ada. Semua ini berati, cara kita menempatkan krisis, tidak hanya terkait dengan sukses gagal di hari ini. Lebih dari itu, kita sedang mendagingkan serangkaian sistim nilai ke dalam tubuh kita. Untuk kemudian, memberi pengaruh yang amat besar ke dalam rautan wajah dan tubuh kita kemudian.

Coba cermati ciri-ciri manusia awet muda dan panjang umur sebagaimana ditemukan oleh Chopra. Dari meraup kesenangan dari kegiatan sehari-hari, menganggap hidup bermakna, yakin telah mencapai sasaran utama, menganut citra diri positif, sampai dengan optimis. Semuanya menunjukkan upaya membadankan sistim nilai positif. Larry Scherwitz dari Universitas California pernah merekam hasil percakapan dengan 600 pria. Sepertiganya mengidap penyakit jantung, dan sisanya sehat-sehat saja. Scherwitz menemukan, pria yang menggunakan kata ganti “saya” lebih banyak dari rata-rata orang, mempunyai resiko kena serangan jantung lebih tinggi.

Dari penemuan-penemuan semacam ini, Scherwitz merekomendasikan untuk semakin membuka hati kepada orang lain. Salah seorang responden Scherwitz yang umurnya sudah tua namun memiliki jantung yang amat sehat berargumen : “seseorang yang terbuka dan penuh cinta akan menua dengan baik“.

Nah, lebih dari sekadar terbuka terhadap orang lain, kita juga memerlukan keterbukaan dalam memandang kehidupan. Persis seperti kasus tetangga yang memberi sekantong tahi sapi. Keterbukaan dan kesediaan untuk mencintai, membuat semua kejadian kehidupan - dari dapat tahi sapi sampai dengan berlian - menjadi penuh dengan warna keindahan.

Egoisme - sebagaimana tercermin dari banyaknya penggunaan kata saya - memang tidak selalu buruk. Namun, ia kerap membadankan serangkaian nilai, yang membuat badan ini cepat tua, lapuk serta rentan penyakit. Meminjam hasil sebuah penemuan di dunia kedokteran, kemanapun perginya fikiran, senantiasa ada bahan kimia yang menyertainya. Atau keadaan-keadaan mental yang murung dirubah menjadi bahan-bahan kimia yang menimbulkan penyakit. Demikian juga sebaliknya.

Belajar dari semua ini, dibandingkan dengan mengumpat dan memaki tahi sapi yang bernama krisis, saya mendidik diri untuk menempatkan krisis sebagai “pupuk“-nya kehidupan.
Kembali ke cerita awal tentang sekantong tahi sapi, Anda dan saya setiap hari ada yang membawakan “tahi sapi“. Mirip dengan tahi sapi, kita tidak bisa merubah kehidupan. Akan tetapi, kita bisa merubah diri bagaimana mesti melihat dan menempatkan kehidupan.

Sadar akan penemuan bahwa keyakinan memproduksi biologi, saya memilih untuk melihat segi positif dari tahi sapi. Terserah Anda!.

Sunday, April 12, 2009

Strategi Membangun Network Yang Efektif dan Efisien

Dunia ini sebenarnya cukup kecil. Siapapun dapat mencapai siapapun di dunia ini hanya dengan 6 lompatan…dibuktikan dari penelitian bahwa rata-rata diperlukan 6 orang untuk mengoper sebuah dokumen dari satu orang ke orang lain yang tidak saling kenal pada 2 kota yang berbeda. Hal ini menunjukkan betapa “kecilnya” sebenarnya koneksi antar manusia di dunia ini. “Small World Theory” by Stanly Milgram.

Sering kita menerima atau mendengar nasehat “bangunlah dan perkuat nerwork anda, karena networking sangat mendukung keberhasilan karir maupun bisnis yang anda tekuni”. Sebenarnya apa itu network? Mengapa network itu penting?

Beberapa ahli menyatakan bahwa “Network” terdiri dari node-node yang menghubungkan satu orang dengan orang lainnya (node yang berrelasi). Node-node tersebut dapat berupa persons, group & organisasi dengan relasinya dapat berupa relasi informal (advice, trust, respect, information exchange), formal (exchange of money, information exchange) atau kombinasi keduanya.

Mengapa network itu penting?

  • Customer atau calon rekan bisnis anda “malas” mendengarkan, namun mereka mendengarkan kata teman anda.
  • Customer atau calon rekan bisnis anda “skeptis", namun mereka mempercayai teman anda.
  • Customer atau calon rekan bisnis anda menyalurkan informasi antar teman-teman mereka, maka berharpkan bahwa informasi itu adalah informasi yang baik tentang anda.

Pada dasarnya ada 2 jenis “link network” yang pertama “weak link network” yaitu orang-orang yang anda kenal, kenal dengan anda namun frekuensi kontak rendah dan yang kedua “strong link network” yaitu orang-orang yang anda kenal, mereka juga kenal dengan anda, frekuensi kontak yang tinggi dan terjadi pertukaran sumber daya.

Seringkali kita hanya terpaku pada “strong link network” saja padahal justru “weak link network” mempunyai potensi yang lebih dahsyat. Orang-orang dalam weak link kita sering mempunyai “resources” (informasi, dana, personal, dll) yang tidak dimiliki oleh orang-orang dalam strong link kita. Strong link kita sangat terbatas (biasanya 10-50 orang), sedangkan weak link kita jauh lebih banyak (3.000 – 10.000 orang), bahkan David Rockefeller mengatakan bisa sampai 50.000 orang.

Weak link kita akan mampu mereferensikan kita atau memberikan informasi pada jaringan yang tidak dikenal oleh strong link kita, yang biasanya sering lebih berguna informasinya daripada stronglink kita. Ingat: nilai suatu informasi sangat tergantung pada ke-akurat-an, ke-kini-an dan ke-langka-annya. Jadi peluang-peluang baru jelas akan anda dapatkan dari weak link network.

OK kita telah sepakat akan lebih mengembangkan weak link. Karena kita memiliki keterbatasan waktu maka strateginya sbb:

  1. Lebih baik kenal dengan orang-orang yang tidak saling kenal satu dengan lainnya.
  2. Kembangkan jaringan ”clusters” anda supaya banyak dan bervariasi secara terus menerus.
  3. Pada masing-masing jaringan carilah type orang-orang yang ACTIVE (Ahead, Connected, Travelers, Information-hungry, Vocal dan Exposed) binalah hubungan dengan mereka.
  4. Jangan lupa untuk memastikan orang yang ACTIVE tersebut me-refer kepada anda.
  5. Perbanyak kelompok yang anda “kuasai”.
  6. Peliharalah secara berkelanjutan dan manfaatkan jaringan “weak link” anda.
  7. Jadilah orang yang “berguna” yang diingat dan dikenal oleh network-network anda.
  8. Manfaatkan teknologi untuk menjaga dan mengembangkan weak link anda (bisa menggunakan jaringan pertemanan/social yang saat ini tersedia gratis seperti facebook atau myspace.

Selamat membangun network anda yang efektif dan efisien, gunakanlah kesempatan yang timbul dari networking ini untuk kesuksesan anda. Salam Inspirasi.

dirangkum dari kuliah Business & Enterpreuner -Tanadi Santoso

Friday, March 20, 2009

Leader Sejati adalah Seorang Learner

Seorang leader memprakarsai proses pembelajaran dan proses perubahan. Menjadi leader sejati berarti menjadi pembelajar … seumur hidup (dari Andrias Harefa dalam Bukunya: Menjadi Manusia Pembelajar).

Dalam buku tersebut Andrias Harefa mengajukan hipotesis bahwa manusia dilahirkan sebagai pembelajar "learner" yang dimungkinkan menjadi leader sejati bahkan tumbuh sampai ke tahap manusia guru (master). Dan belajar di sinonimkan dengan berubah, sehingga “proses pembelajaran” diberi makna yang sama dengan “proses perubahan”. Bila seseorang, atau sebuah organisasi tidak belajar maka ia stagnan, status quo, tak berubah. Dan karena perubahan adalah sesuatu yang konstan namun pasti, maka seseorang atau sebuah organisasi yang kurang sekali dalam pembelajaran akan terancam gagal, bangkrut atau "punah".

Agar tidak kehilangan kesejatian sebagai leader, mereka yang menduduki posisi-posisi kepemimpinan dalam organisasi perlu melihat dirinya sebagai longlife learner. “Belajar” bagi true leader (pemimpin sejati) dipahami sebagai proses yang berlangsung seumur hidup, bukan hanya di gedung sekolah/universitas, bukan cuma dalam kelas dan ruang-ruang kuliah atau laboratorium yang steril dari persoalan-persoalan hidup yang nyata. “Belajar” bagi pemimpin sejati adalah di semua tempat, kepada semua orang, dan dalam segala situasi dan kondisi, baik yang menyenangkan, maupun tidak, baik saat dinilai “sukses” maupun “gagal”.

Leader yang menyukai perubahan dapat dipastikan menyukai pembelajaran. Leader yang suka belajar, tidak anti perubahan, tetapi justru memprakarsai perubahan. Ia menggagas visi, “membuahi” realitas masa kini agar “melahirkan” realitas baru di masa depan lebih baik. Ia melakukan reading, listening, thinking, ber-refleksi, bereksperimentasi dan tentu saja bertindak. Ia membangun kultur yang lebih manusiawi dan berperadaban. Ia mengatur strategi, memompakan motivasi daya juang, melayani “anggota tim” yang menyepakati dan menghormati “konstitusi” yang disepakati bersama.

Pembelajar sebagai pemimpin adalah mereka yang selalu mengejar pengetahuan diri self knowledge, dan pengetahuan tentang sesama manusia the other. Pembelajar sebagai pemimpin tak hanya mempelajari teks, tetapi juga menafsirkan konteks ajaran agama dalam mengemban misi sebagai seorang leader. Mereka menyediakan waktu untuk meningkatkan kompetensi teknis dan manajerialnya. Pembelajar sebagai pemimpin selalu mencari kesempatan untuk merenung, melakukan refleksi, tahajud, meditasi, dan berbagai kegiatan mengasah kearifan spiritual-nya spiritual wisdom tak berhenti pada spiritual intelligence.

Leader sejati mengembangkan kesadaran awareness dalam dirinya bahwa tugas pokoknya adalah menciptakan realitas masa depan yang lebih baik dengan cara mengintervensi realitas masa kini sesuai kapasitas dirinya sebagai manusia otentik, unik tak terbandingkan dengan apapun dan siapapun yang bukan dirinya.

Telkom Luncurkan SpeedyTrek Community, Wadah Interaksi Para Musisi dengan Penggemarnya

PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) melalui produk layanan internet cepat Telkom Speedy siap memfasilitasi interaksi para musisi dengan penggemarnya melalui Program Speedy Trek Community yang diluncurkan di Jakarta bersamaan dengan event Speedy Indie Music Gathering 2009.

Speedy Independent Music Community 2009 merupakan “rumah” bagi serangkaian program yang menyasar komunitas musik Indonesia. Event ini juga diposisikan sebagai start awal dalam rangka mensosialisasikan website SpeedyTrek Community Program yang diperuntukan bagi para musikus independen di tanah air Menurut Vice President Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia, event Speedy Indie Music Gathering 2009 merupakan event awal dari serangkaian rencana SpeedyTrek Community Program yang sekaligus menjadi ajang launching website
http://speedytrek.telkomspeedy.com/.

Rencana kegiatan selanjutnya adalah SpeedyTrek Indie Music Competition, SpeedyTrek Indie Music Award, SpeedyTrek Compilation Album 2009 dan SpeedyTrek Music Event/Roadshow di berbagai kota,” ujar Eddy kurnia. SpeedyTrek Community Program memfasilitasi ekosistem musik Indonesia untuk dapat saling berinteraksi. ”Dengan program SpeedyTrek ini para musisi dapat mengekspresikan dan mengekspos karya mereka. Para penikmat musik dapat mendengarkan, men- download, dan turut serta mengekspos musik yang disukai,” demikian Eddy Kurnia. Bagi pengamat musik, SpeedyTrek dapat menjadi barometer perkembangan musik, khususnya musik Indie di Indonesia.


Selain itu pengamat musik dapat berperan dalam pembentukan ekosistem musik Indonesia sehingga menjadi lebih baik dan lebih sehat lagi. ”Dengan semakin berkembangnya komunitas SpeedyTrek secara langsung akan terbentuk suatu talent pool musik yang excellent di Indonesia sebagai sumber bagi para pencari talent musik,” jelas Eddy Kurnia. Seiring dengan berkembangnya jejaring sosial di internet, terjadi juga pergeseran paradigma di dunia musik.

Pada awalnya para musisi harus mengandalkan record label untuk melakukan promosi dan sosialisasi karya mereka agar dapat menjangkau para penikmat musik. ”Saat ini para musisi dapat menjangkau para penikmat musik secara langsung melalui berbagai jejaring sosial yang ada,” ujar Eddy Kurnia. ”Saat ini pelanggan Speedy mencapai satu juta pelanggan dan melayani 220 kota, ini tentu merupakan komunitas dan kekuatan yang besar bagi perkembangan dunia musik Indonesia,” kata Eddy Kurnia.


Tahun ini Telkom menargetkan 1,72 juta pelanggan. Dengan mengusung SpeedyTrek Community Program , Telkom berharap dapat berperan aktif dalam mengembangkan industri kreatif di Indonesia. Ditambahkannya, Telkom akan terus memperkaya layanan Speedy dengan berbagai konten yang inovatif sesuai dengan tag line ”Konten Hebat” Speedy.

Thursday, March 19, 2009

Oh, Tempayan Retak

Seorang tukang air memiliki 2 tempayan besar masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawa menyilang pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satu lagi tidak. Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan retak hanya dapat membawa air setengah penuh. .

Hal ini terjadi setiap hari selama 1 tahun, si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannya. .

Setelah 1 tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air, "Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu." kata tempayan retak. "Kenapa?" tanya si tukang air. "Kenapa kamu merasa malu?" "Selama 1 tahun ini saya hanya mampu membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa, karena adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itu, saya telah membuatmu rugi." kata tempayan itu. Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas kasihannya, ia berkata, "Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan." .

Dan benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan, dan itu membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya. Si tukang air berkata kepada tempayan itu, "Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu? Itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu selama 1 tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu sebagaimana kamu adanya, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang."

Setiap orang pasti memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Namun percayalah tidak ada ciptaan TUHAN yang sia-sia karena sebenarnya KITA SEMUA ADALAH TEMPAYAN RETAK.
Di Sadur dari berbagai sumber.

Telepon Rumah, Nilai Yang Terus Meningkat

Jangan tinggalkan telepon rumah. Sekalipun Anda telah memiliki banyak nomor telepon seluler, Anda masih tetap membutuhkan telepon rumah. Apalagi value layanan ini di masa depan akan semakin tinggi. Bila suatu saat Anda mengajukan kredit ke bank, misalnya. Pembayaran tagihan bulanan Anda menjadi salah satu referensi yang dibutuhkan pihak perbankan. Dalam ranah bisnis, telepon tetap memiliki karakteristik yang tidak dimiliki seluler. Seperti suara yang jernih, tidak mudah terputus, cepat tersambung, mendukung teknologi PABX serta facsimili.

Ke depan, telepon rumah akan menawarkan berbagai benefit yang semakin beragam dan boleh jadi tidak akan didapatkan di layanan seluler. Hal ini, barangkali yang mendorong PT Telkom, melakukan revitalisasi telepon rumah. ''Ke depan, value telepon rumah (fixed line) akan tinggi,'' ujar VP Public and Marketing Communication PT Telkom Indonesia, Eddy Kurnia. Eddy mengakui, saat ini telepon rumah setelah tenggelam oleh layanan seluler yang semakin agresif.


Gaya hidup (lifestyle) menjadikan telepon rumah mulai ditinggalkan pelanggan. Indikasinya, tingkat penggunaan telepon rumah terus mengalami penurunan. Pada triwulan ketiga tahun 2008, Telkom mencatat penurunan pendapatan sekitar 12 persen dibandingkan periode sama tahun 2007. Padahal tarif dan pelanggan relatif tetap. Dengan pelanggan sekitar 8,7 juta, hingga triwulan ketiga 2008 pendapatan dari sektor ini sekitar Rp 7,5 triliun atau sekitar 17 persen dari pendapatan keseluruhan Telkom yang mencapai Rp 44,6 triliun.

Guna meningkatkan usage telepon rumah, dilakukan revitalisasi. Seperti memperluas layanan broadband Speedy serta meningkatkan kecepatan transfer layanan ini hingga 1Mbps. Bahkan Telkom tengah merealisasikan konsep tripple play--atau tiga layanan menggunakan satu jaringan-- dengan mengembangkan layanan saluran televisi berbasis Internet Protocol (IP-TV) yang sangat inovatif. Ini berarti selain untuk mendukung kebutuhan komunikasi, telepon rumah bisa dimanfaatkan untuk akses internet dan menikmati televisi layaknya televisi berbayar yang ada saat ini. Dari sisi kualitas, layanan yang memanfaatkan jaringan kabel memang lebih baik dibandingkan dengan layanan nirkabel, seperti seluler atau satelit. Ini, barangkali, value yang bisa dinikmati pelanggan telepon rumah.

Makin agresifnya layanan seluler, rupanya juga menginisiasi Telkom mengembangkan suatu konsep pemasaran yang mendekati layanan seluler. Antara lain menawarkan diskon tarif hingga 70 persen pada jam jam tertentu dan apresiasi kepada pelanggan melalui mekanisme poin. Poin tersebut bisa ditukarkan dengan hadiah langsung, serta diikutsertakan dalam undian dengan hadiah-hadiah seperti Yamaha Mio, Kijang Innova dan Grand Prize Mercedes Benz C Class.

Terobosan lain yang dikembangkan Telkom adalah penerapan konsep flat rate. Suatu program yang memungkinkan pelanggan membayar tagihan telepon setiap bulannya dengan jumlah tetap dan bebas abonemen. ''Pada program ini, pelanggan bisa memilih jumlah tagihan bulanan yang sesuai dengan kebiasaannya bertelepon,'' kata Eddy Kurnia. Untuk menikmati layanan ini pelanggan cukup menghubungi contact center Telkom. ''Silakan telepon ke 147. Selanjutnya petugas akan memberikan gambaran berapa tagihan tetap yang harus dibayarkan,'' papar Eddy.

Penetapan biaya tagihan tetap didasarkan pada data tagihan sekitar delapan sampai 10 bulan, serta profil pembayaran pelanggan. ''Dari data dimaksud petugas kami akan menetapkan berapa tagihan tetap yang harus dibayarkan,'' kata Eddy. Karena merujuk pada data penggunaan pelanggan, maka antara satu pelanggan dengan pelanggan lain akan berbeda-beda. Sistem pembayaran tetap bulanan, ujar Eddy, akan memberikan banyak keuntungan, seperti membayar tagihan dengan jumlah tertentu, untuk penggunan yang tidak terbatas.

Pada pembayaran tagihan sistem lama, pelanggan membayar tagihan untuk penggunaan bulan sebelumnya antara tanggal 1 hingga tanggal 30/31. Besar tagihan bergantung pada penggunaan telepon di tambah dengan biaya abonemen atau biaya berlangganan. Pada sistem ini, dimungkinkan terjadi fluktuasi nilai pembayaran, karena tagihan yang harus dibayarkan bergantung pada tingkat penggunaan. ''Dari pemantauan kami, banyak pelanggan yang enggan menggunakan telepon rumah karena khawatir tagihannya akan melonjak,'' papar Eddy. Kekhawatiran seperti ini yang menjadikan banyak telepon rumah tak lagi dimanfaatkan secara optimal.Karena khawatir tagihan melonjak akibat penggunaan yang tidak terkontrol, banyak pelanggan yang mulai mengurangi penggunaan telepon murah. Di sisi lain, gaya hidup keseharian mendorong orang menggunakan telepon bergerak (mobile), untuk komunikasi yang seharusnya bisa menggunakan telepon rumah, sekalipun harus membayar tarif lebih mahal.

Eddy melukiskan inovasi pembayaran tagihan merupakan kelanjutan dari program revitalisasi telepon rumah. Eddy mengakui pendapatan dari sektor telepon tetap terus mengalami penurunan. Meski terjadi penurunan tetapi Telkom akan mempertahankan dan bahkan merevitalisasi fixed line sebagai legacy business. ''Kami akan pertahankan pelanggan yang ada dan meski angkanya tidak terlalu signifikan. Layanan fixed line masih menunjukan peningkatan, sehingga kami optimis business fixed line masih memiliki masa depan,'' kata Eddy Kurnia.

Wednesday, March 18, 2009

Perlakukan Customer seperti Your Lover NOT Your Wife

Hampir semua diantara Anda tentunya pernah merasakan betapa manisnya masa-masa pacaran dengan kekasih anda. Entah kekasih anda dulu adalah yang menjadi istri atau suami tercinta anda sekarang atau sekedar cerita cinta dimasa lalu.
Mereferensi hal tersebut diatas apa salahnya jika kita memperlakukan pelanggan Anda tercinta seperti kekasih Anda. Ada pepatah mengatakan your lover not your wife. Perlakukan pelanggan anda seperti kekasih anda bukan seperti istri anda. Berikut ini adalah 5 paradigma yang menarik antara your lover vs your wife:
  • Make the effort bukan Take it for granted. Untuk mendapatkan cinta sang kekasih, tentunya kita akan mengerahkan segala daya dan upaya untuk melayani dan mempertahankannya karena diluar sana masih banyak yang ingin memperebutkannya. Jangan pernah menganggap pelanggan kita saat ini pasti dan akan tetap menjadi milik kita.
  • Pursuit to the most bukan Let it happen. Kejarlah kekasih itu sampai benar-benar mendapatkannya. Jangan sekedar relax menganggap segala sesuatu pasti akan terjadi. Jangan pernah lagi menganggap pelanggan yang akan mencari kita.
  • Attention to detail bukan Take it or leave it. Memperhatikan pelanggan kita seperti kita memperhatikan kekasih kita. Misalnya kekasih kita suka baju warna apa kalau makan suka makan apa dan dimana. Kadang sikap kita kepada istri take it or leave it yaitu membiarkan istri kita suka apa tidak alias masa bodoh.
  • Make the time bukan As long as I have time. Kita selalu punya waktu untuk kekasih kita meskipun sesibuk apapun itu. Tetapi kalau kepada istri kita kadang-kadang as long as I have time, jujur saja berapa kali kita menyempatkan waktu mengajak istri kita nonton bioskop?
  • Life is fun jangan Life is an Obligation. Jika dengan kekasih kita sering berlaku bahwa hidup ini sungguh menyenangkan, kenapa tidak kita terapkan kepada pelanggan kita. Berbeda jika menganggap bahwa life is an obligation atau hidup adalah tanggungjawab, sesuatu yang harus kita selesaikan seperti jika bersama dengan istri yang sudah lama.

Jika kelima hal tersebut diatas dapat kita terapkan dalam menangani pelanggan sebagai bentuk customer service, yakinlah Anda yang akan menjadi pemenang dalam persaingan memperebutkan sang kekasih “pelanggan” itu. Kelima paradigma diatas tentunya tidak akan berlaku jika kita bisa menganggap bahwa my wife is my lover.

Disarikan dari salah satu seminar Tanadi Santoso.

Belajar Cerdas Secara Sosial

Di suatu pagi di akhir bulan Anda dan rekan-rekan penghuni sekantor sedang sibuk, sebagian besar sibuk melakukan deal-deal melalui telepon dengan pelanggan atau calon pelanggan dan sebagian yang lain serius diskusi bagaimana mencapai target bulan ini yang masih jauh dari harapan. Beberapa saat kemudian datang salah satu rekan Anda atau bawahan Anda yang datang terlambat langsung menghidupkan komputernya dan tanpa ba bi bu bermain game dengan suara yang amat gaduh. Memang dari laporan yang ada target individu rekan Anda tersebut sudah tercapai, tapi mengapa Anda rasanya "mangkel"? Terus apakah ada yang salah dengannya.

Kecerdasan sosial (atau social intelligence) kini tampaknya kian menduduki peran yang amat penting ketika kita hendak membangun sebuah relasi yang produktif nan harmonis. Relasi kita dengan kerabat, dengan tetangga, dengan rekan kerja atau juga dengan atasan mungkin bisa berjalan dengan lebih asyik kalau saja kita mampu mendemonstrasikan sejumlah elemen penting dalam kecerdasan sosial.

Dalam konteks itulah, kehadiran buku bertajuk Social Intelligence : The New Science of Success karya Karl Albrecht ini patut disambut dengan penuh antusiasme (buku yang amat memikat ini telah diterjemahkan ke dalam edisi bahasa Indonesia oleh Penerbit PPM dengan judul Cerdas Bergaul : Kunci Sukses dalam Bisnis dan Masyarakat).

Secara garis besar, Albrecht menyebut adanya lima elemen kunci yang bisa mengasah kecerdasan sosial kita, yang ia singkat menjadi kata SPACE. Kata S merujuk pada kata situational awareness (kesadaran situasional). Makna dari kesadaran ini adalah sebuah kehendak untuk bisa memahami dan peka akan kebutuhan serta hak orang lain. Salah satu rekan anda dalam ilustrasi di awal alinea artikel ini jelas yang bersangkutan belum memahami kesadaran situasional.

Elemen yang kedua adalah presense (atau kemampuan membawa diri). Bagaimana etika penampilan Anda, tutur kata dan sapa yang Anda bentangkan, gerak tubuh ketika bicara dan mendengarkan adalah sejumlah aspek yang tercakup dalam elemen ini. Setiap orang pasti akan meninggalkan impresi yang berlainan tentang mutu presense yang dihadirkannya. Anda mungkin bisa mengingat siapa rekan atau atasan Anda yang memiliki kualitas presense yang baik dan mana yang buruk.

Elemen yang ketiga adalah authenticity (autensitas) atau sinyal dari perilaku kita yang akan membuat orang lain menilai kita sebagai orang yang layak dipercaya (trusted), jujur, terbuka, dan mampu menghadirkan sejumput ketulusan. Elemen ini amat penting sebab hanya dengan aspek inilah kita bisa membentangkan berjejak relasi yang mulia nan bermartabat.

Elemen yang keempat adalah clarity (kejelasan). Aspek ini menjelaskan sejauh mana kita dibekali kemampuan untuk menyampaikan gagasan dan ide kita secara renyah nan persuasif sehingga orang lain bisa menerimanya dengan tangan terbuka. Acap kita memiliki gagasan yang baik, namun gagal mengkomunikasikannya secara cantik sehingga atasan atau rekan kerja kita ndak berhasil diyakinkan. Kecerdasan sosial yang produktif barangkali memang hanya akan bisa dibangun dengan indah manakala kita mampu mengartikulasikan segenap pemikiran kita dengan penuh kejernihan dan kebeningan.

Elemen yang terakhir adalah empathy (atau empati). Aspek ini merujuk pada sejauh mana kita bisa berempati pada pandangan dan gagasan orang lain. Dan juga sejauh mana kita memiliki ketrampilan untuk bisa mendengarkan dan memahami maksud pemikiran orang lain. Kita barangkali akan bisa merajut sebuah jalinan relasi yang guyub dan meaningful kalau saja kita semua selalu dibekali dengan rasa empati yang kuat terhadap sesama rekan kita.

disadur dari tulisan: Yodia Antariksa