Friday, March 20, 2009

Leader Sejati adalah Seorang Learner

Seorang leader memprakarsai proses pembelajaran dan proses perubahan. Menjadi leader sejati berarti menjadi pembelajar … seumur hidup (dari Andrias Harefa dalam Bukunya: Menjadi Manusia Pembelajar).

Dalam buku tersebut Andrias Harefa mengajukan hipotesis bahwa manusia dilahirkan sebagai pembelajar "learner" yang dimungkinkan menjadi leader sejati bahkan tumbuh sampai ke tahap manusia guru (master). Dan belajar di sinonimkan dengan berubah, sehingga “proses pembelajaran” diberi makna yang sama dengan “proses perubahan”. Bila seseorang, atau sebuah organisasi tidak belajar maka ia stagnan, status quo, tak berubah. Dan karena perubahan adalah sesuatu yang konstan namun pasti, maka seseorang atau sebuah organisasi yang kurang sekali dalam pembelajaran akan terancam gagal, bangkrut atau "punah".

Agar tidak kehilangan kesejatian sebagai leader, mereka yang menduduki posisi-posisi kepemimpinan dalam organisasi perlu melihat dirinya sebagai longlife learner. “Belajar” bagi true leader (pemimpin sejati) dipahami sebagai proses yang berlangsung seumur hidup, bukan hanya di gedung sekolah/universitas, bukan cuma dalam kelas dan ruang-ruang kuliah atau laboratorium yang steril dari persoalan-persoalan hidup yang nyata. “Belajar” bagi pemimpin sejati adalah di semua tempat, kepada semua orang, dan dalam segala situasi dan kondisi, baik yang menyenangkan, maupun tidak, baik saat dinilai “sukses” maupun “gagal”.

Leader yang menyukai perubahan dapat dipastikan menyukai pembelajaran. Leader yang suka belajar, tidak anti perubahan, tetapi justru memprakarsai perubahan. Ia menggagas visi, “membuahi” realitas masa kini agar “melahirkan” realitas baru di masa depan lebih baik. Ia melakukan reading, listening, thinking, ber-refleksi, bereksperimentasi dan tentu saja bertindak. Ia membangun kultur yang lebih manusiawi dan berperadaban. Ia mengatur strategi, memompakan motivasi daya juang, melayani “anggota tim” yang menyepakati dan menghormati “konstitusi” yang disepakati bersama.

Pembelajar sebagai pemimpin adalah mereka yang selalu mengejar pengetahuan diri self knowledge, dan pengetahuan tentang sesama manusia the other. Pembelajar sebagai pemimpin tak hanya mempelajari teks, tetapi juga menafsirkan konteks ajaran agama dalam mengemban misi sebagai seorang leader. Mereka menyediakan waktu untuk meningkatkan kompetensi teknis dan manajerialnya. Pembelajar sebagai pemimpin selalu mencari kesempatan untuk merenung, melakukan refleksi, tahajud, meditasi, dan berbagai kegiatan mengasah kearifan spiritual-nya spiritual wisdom tak berhenti pada spiritual intelligence.

Leader sejati mengembangkan kesadaran awareness dalam dirinya bahwa tugas pokoknya adalah menciptakan realitas masa depan yang lebih baik dengan cara mengintervensi realitas masa kini sesuai kapasitas dirinya sebagai manusia otentik, unik tak terbandingkan dengan apapun dan siapapun yang bukan dirinya.

Telkom Luncurkan SpeedyTrek Community, Wadah Interaksi Para Musisi dengan Penggemarnya

PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) melalui produk layanan internet cepat Telkom Speedy siap memfasilitasi interaksi para musisi dengan penggemarnya melalui Program Speedy Trek Community yang diluncurkan di Jakarta bersamaan dengan event Speedy Indie Music Gathering 2009.

Speedy Independent Music Community 2009 merupakan “rumah” bagi serangkaian program yang menyasar komunitas musik Indonesia. Event ini juga diposisikan sebagai start awal dalam rangka mensosialisasikan website SpeedyTrek Community Program yang diperuntukan bagi para musikus independen di tanah air Menurut Vice President Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia, event Speedy Indie Music Gathering 2009 merupakan event awal dari serangkaian rencana SpeedyTrek Community Program yang sekaligus menjadi ajang launching website
http://speedytrek.telkomspeedy.com/.

Rencana kegiatan selanjutnya adalah SpeedyTrek Indie Music Competition, SpeedyTrek Indie Music Award, SpeedyTrek Compilation Album 2009 dan SpeedyTrek Music Event/Roadshow di berbagai kota,” ujar Eddy kurnia. SpeedyTrek Community Program memfasilitasi ekosistem musik Indonesia untuk dapat saling berinteraksi. ”Dengan program SpeedyTrek ini para musisi dapat mengekspresikan dan mengekspos karya mereka. Para penikmat musik dapat mendengarkan, men- download, dan turut serta mengekspos musik yang disukai,” demikian Eddy Kurnia. Bagi pengamat musik, SpeedyTrek dapat menjadi barometer perkembangan musik, khususnya musik Indie di Indonesia.


Selain itu pengamat musik dapat berperan dalam pembentukan ekosistem musik Indonesia sehingga menjadi lebih baik dan lebih sehat lagi. ”Dengan semakin berkembangnya komunitas SpeedyTrek secara langsung akan terbentuk suatu talent pool musik yang excellent di Indonesia sebagai sumber bagi para pencari talent musik,” jelas Eddy Kurnia. Seiring dengan berkembangnya jejaring sosial di internet, terjadi juga pergeseran paradigma di dunia musik.

Pada awalnya para musisi harus mengandalkan record label untuk melakukan promosi dan sosialisasi karya mereka agar dapat menjangkau para penikmat musik. ”Saat ini para musisi dapat menjangkau para penikmat musik secara langsung melalui berbagai jejaring sosial yang ada,” ujar Eddy Kurnia. ”Saat ini pelanggan Speedy mencapai satu juta pelanggan dan melayani 220 kota, ini tentu merupakan komunitas dan kekuatan yang besar bagi perkembangan dunia musik Indonesia,” kata Eddy Kurnia.


Tahun ini Telkom menargetkan 1,72 juta pelanggan. Dengan mengusung SpeedyTrek Community Program , Telkom berharap dapat berperan aktif dalam mengembangkan industri kreatif di Indonesia. Ditambahkannya, Telkom akan terus memperkaya layanan Speedy dengan berbagai konten yang inovatif sesuai dengan tag line ”Konten Hebat” Speedy.

Thursday, March 19, 2009

Oh, Tempayan Retak

Seorang tukang air memiliki 2 tempayan besar masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawa menyilang pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satu lagi tidak. Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan retak hanya dapat membawa air setengah penuh. .

Hal ini terjadi setiap hari selama 1 tahun, si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannya. .

Setelah 1 tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air, "Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu." kata tempayan retak. "Kenapa?" tanya si tukang air. "Kenapa kamu merasa malu?" "Selama 1 tahun ini saya hanya mampu membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa, karena adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itu, saya telah membuatmu rugi." kata tempayan itu. Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas kasihannya, ia berkata, "Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan." .

Dan benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan, dan itu membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya. Si tukang air berkata kepada tempayan itu, "Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu? Itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu selama 1 tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu sebagaimana kamu adanya, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang."

Setiap orang pasti memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Namun percayalah tidak ada ciptaan TUHAN yang sia-sia karena sebenarnya KITA SEMUA ADALAH TEMPAYAN RETAK.
Di Sadur dari berbagai sumber.

Telepon Rumah, Nilai Yang Terus Meningkat

Jangan tinggalkan telepon rumah. Sekalipun Anda telah memiliki banyak nomor telepon seluler, Anda masih tetap membutuhkan telepon rumah. Apalagi value layanan ini di masa depan akan semakin tinggi. Bila suatu saat Anda mengajukan kredit ke bank, misalnya. Pembayaran tagihan bulanan Anda menjadi salah satu referensi yang dibutuhkan pihak perbankan. Dalam ranah bisnis, telepon tetap memiliki karakteristik yang tidak dimiliki seluler. Seperti suara yang jernih, tidak mudah terputus, cepat tersambung, mendukung teknologi PABX serta facsimili.

Ke depan, telepon rumah akan menawarkan berbagai benefit yang semakin beragam dan boleh jadi tidak akan didapatkan di layanan seluler. Hal ini, barangkali yang mendorong PT Telkom, melakukan revitalisasi telepon rumah. ''Ke depan, value telepon rumah (fixed line) akan tinggi,'' ujar VP Public and Marketing Communication PT Telkom Indonesia, Eddy Kurnia. Eddy mengakui, saat ini telepon rumah setelah tenggelam oleh layanan seluler yang semakin agresif.


Gaya hidup (lifestyle) menjadikan telepon rumah mulai ditinggalkan pelanggan. Indikasinya, tingkat penggunaan telepon rumah terus mengalami penurunan. Pada triwulan ketiga tahun 2008, Telkom mencatat penurunan pendapatan sekitar 12 persen dibandingkan periode sama tahun 2007. Padahal tarif dan pelanggan relatif tetap. Dengan pelanggan sekitar 8,7 juta, hingga triwulan ketiga 2008 pendapatan dari sektor ini sekitar Rp 7,5 triliun atau sekitar 17 persen dari pendapatan keseluruhan Telkom yang mencapai Rp 44,6 triliun.

Guna meningkatkan usage telepon rumah, dilakukan revitalisasi. Seperti memperluas layanan broadband Speedy serta meningkatkan kecepatan transfer layanan ini hingga 1Mbps. Bahkan Telkom tengah merealisasikan konsep tripple play--atau tiga layanan menggunakan satu jaringan-- dengan mengembangkan layanan saluran televisi berbasis Internet Protocol (IP-TV) yang sangat inovatif. Ini berarti selain untuk mendukung kebutuhan komunikasi, telepon rumah bisa dimanfaatkan untuk akses internet dan menikmati televisi layaknya televisi berbayar yang ada saat ini. Dari sisi kualitas, layanan yang memanfaatkan jaringan kabel memang lebih baik dibandingkan dengan layanan nirkabel, seperti seluler atau satelit. Ini, barangkali, value yang bisa dinikmati pelanggan telepon rumah.

Makin agresifnya layanan seluler, rupanya juga menginisiasi Telkom mengembangkan suatu konsep pemasaran yang mendekati layanan seluler. Antara lain menawarkan diskon tarif hingga 70 persen pada jam jam tertentu dan apresiasi kepada pelanggan melalui mekanisme poin. Poin tersebut bisa ditukarkan dengan hadiah langsung, serta diikutsertakan dalam undian dengan hadiah-hadiah seperti Yamaha Mio, Kijang Innova dan Grand Prize Mercedes Benz C Class.

Terobosan lain yang dikembangkan Telkom adalah penerapan konsep flat rate. Suatu program yang memungkinkan pelanggan membayar tagihan telepon setiap bulannya dengan jumlah tetap dan bebas abonemen. ''Pada program ini, pelanggan bisa memilih jumlah tagihan bulanan yang sesuai dengan kebiasaannya bertelepon,'' kata Eddy Kurnia. Untuk menikmati layanan ini pelanggan cukup menghubungi contact center Telkom. ''Silakan telepon ke 147. Selanjutnya petugas akan memberikan gambaran berapa tagihan tetap yang harus dibayarkan,'' papar Eddy.

Penetapan biaya tagihan tetap didasarkan pada data tagihan sekitar delapan sampai 10 bulan, serta profil pembayaran pelanggan. ''Dari data dimaksud petugas kami akan menetapkan berapa tagihan tetap yang harus dibayarkan,'' kata Eddy. Karena merujuk pada data penggunaan pelanggan, maka antara satu pelanggan dengan pelanggan lain akan berbeda-beda. Sistem pembayaran tetap bulanan, ujar Eddy, akan memberikan banyak keuntungan, seperti membayar tagihan dengan jumlah tertentu, untuk penggunan yang tidak terbatas.

Pada pembayaran tagihan sistem lama, pelanggan membayar tagihan untuk penggunaan bulan sebelumnya antara tanggal 1 hingga tanggal 30/31. Besar tagihan bergantung pada penggunaan telepon di tambah dengan biaya abonemen atau biaya berlangganan. Pada sistem ini, dimungkinkan terjadi fluktuasi nilai pembayaran, karena tagihan yang harus dibayarkan bergantung pada tingkat penggunaan. ''Dari pemantauan kami, banyak pelanggan yang enggan menggunakan telepon rumah karena khawatir tagihannya akan melonjak,'' papar Eddy. Kekhawatiran seperti ini yang menjadikan banyak telepon rumah tak lagi dimanfaatkan secara optimal.Karena khawatir tagihan melonjak akibat penggunaan yang tidak terkontrol, banyak pelanggan yang mulai mengurangi penggunaan telepon murah. Di sisi lain, gaya hidup keseharian mendorong orang menggunakan telepon bergerak (mobile), untuk komunikasi yang seharusnya bisa menggunakan telepon rumah, sekalipun harus membayar tarif lebih mahal.

Eddy melukiskan inovasi pembayaran tagihan merupakan kelanjutan dari program revitalisasi telepon rumah. Eddy mengakui pendapatan dari sektor telepon tetap terus mengalami penurunan. Meski terjadi penurunan tetapi Telkom akan mempertahankan dan bahkan merevitalisasi fixed line sebagai legacy business. ''Kami akan pertahankan pelanggan yang ada dan meski angkanya tidak terlalu signifikan. Layanan fixed line masih menunjukan peningkatan, sehingga kami optimis business fixed line masih memiliki masa depan,'' kata Eddy Kurnia.

Wednesday, March 18, 2009

Perlakukan Customer seperti Your Lover NOT Your Wife

Hampir semua diantara Anda tentunya pernah merasakan betapa manisnya masa-masa pacaran dengan kekasih anda. Entah kekasih anda dulu adalah yang menjadi istri atau suami tercinta anda sekarang atau sekedar cerita cinta dimasa lalu.
Mereferensi hal tersebut diatas apa salahnya jika kita memperlakukan pelanggan Anda tercinta seperti kekasih Anda. Ada pepatah mengatakan your lover not your wife. Perlakukan pelanggan anda seperti kekasih anda bukan seperti istri anda. Berikut ini adalah 5 paradigma yang menarik antara your lover vs your wife:
  • Make the effort bukan Take it for granted. Untuk mendapatkan cinta sang kekasih, tentunya kita akan mengerahkan segala daya dan upaya untuk melayani dan mempertahankannya karena diluar sana masih banyak yang ingin memperebutkannya. Jangan pernah menganggap pelanggan kita saat ini pasti dan akan tetap menjadi milik kita.
  • Pursuit to the most bukan Let it happen. Kejarlah kekasih itu sampai benar-benar mendapatkannya. Jangan sekedar relax menganggap segala sesuatu pasti akan terjadi. Jangan pernah lagi menganggap pelanggan yang akan mencari kita.
  • Attention to detail bukan Take it or leave it. Memperhatikan pelanggan kita seperti kita memperhatikan kekasih kita. Misalnya kekasih kita suka baju warna apa kalau makan suka makan apa dan dimana. Kadang sikap kita kepada istri take it or leave it yaitu membiarkan istri kita suka apa tidak alias masa bodoh.
  • Make the time bukan As long as I have time. Kita selalu punya waktu untuk kekasih kita meskipun sesibuk apapun itu. Tetapi kalau kepada istri kita kadang-kadang as long as I have time, jujur saja berapa kali kita menyempatkan waktu mengajak istri kita nonton bioskop?
  • Life is fun jangan Life is an Obligation. Jika dengan kekasih kita sering berlaku bahwa hidup ini sungguh menyenangkan, kenapa tidak kita terapkan kepada pelanggan kita. Berbeda jika menganggap bahwa life is an obligation atau hidup adalah tanggungjawab, sesuatu yang harus kita selesaikan seperti jika bersama dengan istri yang sudah lama.

Jika kelima hal tersebut diatas dapat kita terapkan dalam menangani pelanggan sebagai bentuk customer service, yakinlah Anda yang akan menjadi pemenang dalam persaingan memperebutkan sang kekasih “pelanggan” itu. Kelima paradigma diatas tentunya tidak akan berlaku jika kita bisa menganggap bahwa my wife is my lover.

Disarikan dari salah satu seminar Tanadi Santoso.

Belajar Cerdas Secara Sosial

Di suatu pagi di akhir bulan Anda dan rekan-rekan penghuni sekantor sedang sibuk, sebagian besar sibuk melakukan deal-deal melalui telepon dengan pelanggan atau calon pelanggan dan sebagian yang lain serius diskusi bagaimana mencapai target bulan ini yang masih jauh dari harapan. Beberapa saat kemudian datang salah satu rekan Anda atau bawahan Anda yang datang terlambat langsung menghidupkan komputernya dan tanpa ba bi bu bermain game dengan suara yang amat gaduh. Memang dari laporan yang ada target individu rekan Anda tersebut sudah tercapai, tapi mengapa Anda rasanya "mangkel"? Terus apakah ada yang salah dengannya.

Kecerdasan sosial (atau social intelligence) kini tampaknya kian menduduki peran yang amat penting ketika kita hendak membangun sebuah relasi yang produktif nan harmonis. Relasi kita dengan kerabat, dengan tetangga, dengan rekan kerja atau juga dengan atasan mungkin bisa berjalan dengan lebih asyik kalau saja kita mampu mendemonstrasikan sejumlah elemen penting dalam kecerdasan sosial.

Dalam konteks itulah, kehadiran buku bertajuk Social Intelligence : The New Science of Success karya Karl Albrecht ini patut disambut dengan penuh antusiasme (buku yang amat memikat ini telah diterjemahkan ke dalam edisi bahasa Indonesia oleh Penerbit PPM dengan judul Cerdas Bergaul : Kunci Sukses dalam Bisnis dan Masyarakat).

Secara garis besar, Albrecht menyebut adanya lima elemen kunci yang bisa mengasah kecerdasan sosial kita, yang ia singkat menjadi kata SPACE. Kata S merujuk pada kata situational awareness (kesadaran situasional). Makna dari kesadaran ini adalah sebuah kehendak untuk bisa memahami dan peka akan kebutuhan serta hak orang lain. Salah satu rekan anda dalam ilustrasi di awal alinea artikel ini jelas yang bersangkutan belum memahami kesadaran situasional.

Elemen yang kedua adalah presense (atau kemampuan membawa diri). Bagaimana etika penampilan Anda, tutur kata dan sapa yang Anda bentangkan, gerak tubuh ketika bicara dan mendengarkan adalah sejumlah aspek yang tercakup dalam elemen ini. Setiap orang pasti akan meninggalkan impresi yang berlainan tentang mutu presense yang dihadirkannya. Anda mungkin bisa mengingat siapa rekan atau atasan Anda yang memiliki kualitas presense yang baik dan mana yang buruk.

Elemen yang ketiga adalah authenticity (autensitas) atau sinyal dari perilaku kita yang akan membuat orang lain menilai kita sebagai orang yang layak dipercaya (trusted), jujur, terbuka, dan mampu menghadirkan sejumput ketulusan. Elemen ini amat penting sebab hanya dengan aspek inilah kita bisa membentangkan berjejak relasi yang mulia nan bermartabat.

Elemen yang keempat adalah clarity (kejelasan). Aspek ini menjelaskan sejauh mana kita dibekali kemampuan untuk menyampaikan gagasan dan ide kita secara renyah nan persuasif sehingga orang lain bisa menerimanya dengan tangan terbuka. Acap kita memiliki gagasan yang baik, namun gagal mengkomunikasikannya secara cantik sehingga atasan atau rekan kerja kita ndak berhasil diyakinkan. Kecerdasan sosial yang produktif barangkali memang hanya akan bisa dibangun dengan indah manakala kita mampu mengartikulasikan segenap pemikiran kita dengan penuh kejernihan dan kebeningan.

Elemen yang terakhir adalah empathy (atau empati). Aspek ini merujuk pada sejauh mana kita bisa berempati pada pandangan dan gagasan orang lain. Dan juga sejauh mana kita memiliki ketrampilan untuk bisa mendengarkan dan memahami maksud pemikiran orang lain. Kita barangkali akan bisa merajut sebuah jalinan relasi yang guyub dan meaningful kalau saja kita semua selalu dibekali dengan rasa empati yang kuat terhadap sesama rekan kita.

disadur dari tulisan: Yodia Antariksa