Thursday, March 17, 2011

Kukayuh pedal kujalani proses penuh makna

Teringat 25 tahun lalu Bapakku pernah ngendiko, "Le,..awakmu sekarang wis kelas 1 SMP, bapak perhatikan kamu juga wis lancarnaik sepeda. Bukannya bapak tidak mau mengantar dan tidak sayang karo awakmu. Justru karena bapak sayang sehingga bapak minta mulai ajaran baru besok ke sekolah naik sepeda sendiri. Ingat, kudu ati-ati jangan grusa-grusu dan jangan lupa berdoa minta perlindungan Allah. Selama bersepeda kamu akan dapat banyak pelajaran yang bermanfaat untuk kehidupanmu kelak". Dengan sedikit deg-degan "Bismillah" kujalani hari pertama berangkat ke sekolah mengayuh sepeda. Sebuah sepeda jengki berwarna biru buatan RRT yang tentu saja terasa cukup berat untuk anak seusiaku. Jarak 8 kilometer dari rumah ke sekolahku kondisi jalan sedikit tanjakan dan turunan dapat kutempuh 45 menit di hari pertama. Bu Darmini kepala sekolah yang penuh wibawa-meski bagiku tampak sedikit angker-berdiri di depan pintu gerbang sekolah, ternyata hari itu akau sudah telat 10 menit. Terpikir dibenakku jika tidak ingin terlambat lagi, besok aku harus berangkat lebih pagi lagi-dan itu sepertinya mustahil karena pagi-pagi sebelum berangkat sekolah aku harus menyelesaikan tugas yang telah menjadi kesepakatan kami sekeluarga, aku menyapu pekarangan samping kiri kanan belakang dan halaman depan rumah, sedangkan kakakku mengisi bak mandi untuk mandi kami semua dan adikku membersihkan rumah dan membantu ibu didapur. Satu-satunya cara aku harus lebih cepat menggenjot pedal sepedaku agar tepat waktu sampai ke sekolah. Hari berganti hari tanpa kusadari ternyata dengan bersepeda aku telah menjalani "learning prosess" yang membentuk karakterku kelak. Aku mulai menemukan teman-teman sekolah sesama pengayuh sepeda yang menjadi teman canda gurau selama perjalanan sekaligus sebagai rival kompetitor untuk menyemangati dalam menggenjot pedal agar kami lebih cepat sampai ke sekolah. Saat bersepeda aku belajar tentang bagaimana memanfaatkan tenaga secara efisien dan mengukur segala resiko kemungkinan kecelakaan, memperhitungkan jarak dan kecepatan sebelum memutuskan untuk menyalip kendaraan yang ada didepanku jika tidak ingin tertabrak kendaraan dari arah sebaliknya. Di jalan aku belajar membuat keputusan dengan memperhitungkan resources dan segala resiko yang mungkin timbul. Pengalaman bersepeda membuatkanku bisa memaknai arti kesabaran, semangat, kerja keras dan harapan. Sabar menjalani rute kehidupan yang berliku kadang naik kadang turun dan menjaga semangat untuk bekerja bekerja keras megayuh sampai ke tujuan yang diharapkan. Dari bersepeda aku terbiasa untuk selalu mengawali dengan doa sebelum berupaya dan mengakhiri dengan tawakal menyerahkan keselamatan sepenuhnya kepada Allah penguasa jiwa ragaku. Setelah puluhan tahun tahun melupakan kini setiap minggu pagi ku susuri jalanan kota maupun jalan-jalan desa yang makasih perawan. Bukan sekedar ingin belajar membuat keputusan atau memaknai arti kata kerja keras bukan pula sekedar merontokkan kolestrol dibadan tetapi lebih dari itu adalah wujud mencintai mencintai bumi dan ungkapan syukur pada Illahi.