Wednesday, March 30, 2011

Mengisi Toples Kehidupan

Suatu saat seorang guru mengajarkan kami. Beliau meletakkan diatas meja sebuah toples, pasir, seonggok kerikil, beberapa buah batudan segayung air. Beliau bertanya “Bagaimana cara memenuhi toples dengan benda-denda diatas meja ini secara berurutan?” Mula-mula beliau mengambil batu-batu yang ada diatas meja dan memasukkan ke dalam toples, rupanya toples masih belum penuh lalu beliau memasukkan kerikil untuk mengisi celah-celah diantara batu besar. Kemudian dituangkan pasir halus kedalam toples dan menggoyang-goyangkan agar pasir dapat memenuhi rongga-rongga antara batu dan kerikil. Dan yang terakhir beliau menyiramkan segayung air. Dan toples benar-benar penuh dan padat. Pelajaran penting yang dapat dipetik adalah bagaimana membuat prioritas dalam mengisi kehidupan ini. Pastikan untuk pertama-tama memasukkan “batu-batu” yang paling berharga dalam hidup kita, atau kita tidak akan pernah dapat memasukkannya karena sudah terlanjur penuh terisi kerikil dan pasir. Sepakat?

Persiapkan Anak Negri Kita

Karena beberapa kesibukan di kantor dan kemacetan dijalan, tadi malam saya baru sampai dirumah jam tujuh kurang duapuluh menit. Setelah sebentar membersihkan diri kuhampiri anak-anak untuk menyemangati mereka belajar
dan mengerjakan PR Kumon. Pukul 19.10 aku bergegas menuju kantor kelurahan untuk mengikuti acara musrenbang alias musyawarah perencanaan pembangunan tingkat kelurahan, undangan sebenarnya jam 19.00. Namun sampai jam 19.45 acara belum ada tanda-tanda dimulai... hmmmmm inilah salah satu kebiasaan buruk bangsa ini menghukum yang datang awal disuruh menunggu yang datang terlambat he...he...


Sejak acara dibuka jam 20.05 suasana langsung terasa gerah padahal sejak sore hujan masih mengguyur cukup deras, masing-masing utusan rw saling ngotot mempertahankan usulannya untuk jadi prioritas. Harap maklum banyak usulan yang sebenarnya sudah pernah diusulkan sejak 2008 belum terrealisasi...

diusulkan lagi 2009 dan sampai saat ini masih belum juga terrealisasi...bahkan ada yang menagih janji dari kampanye pilkada 2 tahun lalu...seru..aya aya wae.

Terus terang aku sendiri merasa geregetan dengan program-program yang sudah terrealisasi selama ini, begitu juga yang direncanakan untuk 2012 karena hampir 99% hanya pembangunan fisik, mulai dari pavingisasi, penerangan jalan umum,

gorong-gorong, plengsengan, pembangunan balai rw,

meninggikan pagar kuburan..tidak tahu biar apa nih trus lampu penerangan kuburan..kagak tahu untuk apa ini mungkin kalo kuburan terang hantu-hantu kaga’ berani nongol kali ya? Hampir semua program hanya diarahkan satu dinas yaitu ke dinas pekerjaan umum! padahal banyak sekali dinas-dinas yang dibayar oleh senagar dengan uang rakyat ada dinas industri perdagangan, dinas koperasi & umkm, olahraga & kebudayaan, kominfo dll.

Program pembangunan non fisik sangat minim, hampir tidak ada! padahal banyak sekali non fisik yang menurutku lebih penting untuk diprioritaskan..

Buat apa mempunyai balai rw yang megah kalau hanya untuk nongkrong-nongkrong dan main catur doang.. Padahal banyak keluarga sekitar yang tidak mampu membayar kursus anaknya. kenapa tidak ada program bagi yang tidak mampu? mana kursus bahasa inggris gratis? kursus berenang gratis? kursus computer/hp gratis? sekolah bola gratis bagi yang berbakat! ataukah kursus wirausaha kek! dan masih banyak lagi hal yang terkait dengan pemberdayaan generasi muda... seharusnya diprioritaskan untuk menyiapkan generasi mendatang yang tangguh dan dapat diandalkan untuk kemasyhuran bangsa.

Negeri ini miskin prestasi! tapi tidak ada yang peduli..malah sibuk rebutan kursi. Saat ini hal-hal yang bersifat kebendaan dan gengsi sedang melilit segala sendi kehidupan bangsa ini...

Perhatikan mulai dari tingkat keluarga, organisasi, pemerintahan dari yang terrendah sampai tertinggi... Lihat... Kita lebih memilih membelikan anak kita PS, PSP, Nintendo daripada mengajari mereka beraneka permainan.. Kita lebih memilih beli blackberry & bayar tagihan bulannya daripada untuk membayar bulanan kursus anak-anak ...

Kita lebih memilih membangun menara masjid yang tinggi daripada membuat TPQ gratis yang berkualitas... Kita lebih memilih membuat gereja yang indah dan megah daripada mendirikan taman pendidikan anak terlantar... Lihat apa yang dikerjakan pera petinggi negeri ini..

Hanya sibuk mempertahankan posisi... Merancang-rancang koalisi... Mana visi mempersiapkan anak negeri, membangun mental mereka, mempersiapkan skill mereka...

Silahkan para dewan yang terhormat benchmark ke negara-negara yang berhasil mempersiapkan sumber daya manusianya Kalau memang bagus kenapa tidak diterapkan wajib militer bagi setiap generasi muda untuk membangun jiwa korsa mereka! untuk membangun patriotisme mereka! untuk menempa mental mereka agar tidak inferior dengan bangsa lain?

Konon jepang mempunyai falsafah hidup “gambaru” artinya “bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha habis-habisan” konon semangat ini selalu digembar-gemborkan dan diterapkan disetiap kesempatan dan disetiap sendi kehidupan mereka..

Bahkan anak baru umur 3 tahun meraka sudah disuruh gambaru di sekolahnya, seperti memakai baju di musim dingin mesti yang tipis2 agar tidak manja terhadap cuaca dingin, di dalam sekolah tidak boleh pakai kaos kaki karena kalau telapak kaki langsung kena lantai itu baik untuk kesehatan, anak sakit2 sedikit cuma ingus meler atau demam 37 derajat tidak usah bolos sekolah, dengan alasan anak akan kuat menghadapi penyakit jika ia melawan penyakitnya itu sendiri.

Sebenarnya bangsa ini juga punya falsafah hidup yang tidak kalah dengan mereka..namun cuma menjadi wacana. Lihat cara Jepang yang sedang menangani bencana gempa, tsunami, ancaman ledakan PLTN... Mereka terlihat tangguh, pembelian kebutuhan sehari-hari didaerah bencana tetap antri tanpa penjarahan.

Bandingkan dengan negeri kita....saat bencana lalu.. Setiap hari semua stasiun televisi menampilkan lagu-lagu pilu..Ebiet g.ade... dompet peduli...

Bangsa kita ini miskin!.........tapi cengeng!! Ini karena anak negeri ini tidak pernah dipersiapkan, dilatih dan ditempa secara serius.

Thursday, March 17, 2011

Kukayuh pedal kujalani proses penuh makna

Teringat 25 tahun lalu Bapakku pernah ngendiko, "Le,..awakmu sekarang wis kelas 1 SMP, bapak perhatikan kamu juga wis lancarnaik sepeda. Bukannya bapak tidak mau mengantar dan tidak sayang karo awakmu. Justru karena bapak sayang sehingga bapak minta mulai ajaran baru besok ke sekolah naik sepeda sendiri. Ingat, kudu ati-ati jangan grusa-grusu dan jangan lupa berdoa minta perlindungan Allah. Selama bersepeda kamu akan dapat banyak pelajaran yang bermanfaat untuk kehidupanmu kelak". Dengan sedikit deg-degan "Bismillah" kujalani hari pertama berangkat ke sekolah mengayuh sepeda. Sebuah sepeda jengki berwarna biru buatan RRT yang tentu saja terasa cukup berat untuk anak seusiaku. Jarak 8 kilometer dari rumah ke sekolahku kondisi jalan sedikit tanjakan dan turunan dapat kutempuh 45 menit di hari pertama. Bu Darmini kepala sekolah yang penuh wibawa-meski bagiku tampak sedikit angker-berdiri di depan pintu gerbang sekolah, ternyata hari itu akau sudah telat 10 menit. Terpikir dibenakku jika tidak ingin terlambat lagi, besok aku harus berangkat lebih pagi lagi-dan itu sepertinya mustahil karena pagi-pagi sebelum berangkat sekolah aku harus menyelesaikan tugas yang telah menjadi kesepakatan kami sekeluarga, aku menyapu pekarangan samping kiri kanan belakang dan halaman depan rumah, sedangkan kakakku mengisi bak mandi untuk mandi kami semua dan adikku membersihkan rumah dan membantu ibu didapur. Satu-satunya cara aku harus lebih cepat menggenjot pedal sepedaku agar tepat waktu sampai ke sekolah. Hari berganti hari tanpa kusadari ternyata dengan bersepeda aku telah menjalani "learning prosess" yang membentuk karakterku kelak. Aku mulai menemukan teman-teman sekolah sesama pengayuh sepeda yang menjadi teman canda gurau selama perjalanan sekaligus sebagai rival kompetitor untuk menyemangati dalam menggenjot pedal agar kami lebih cepat sampai ke sekolah. Saat bersepeda aku belajar tentang bagaimana memanfaatkan tenaga secara efisien dan mengukur segala resiko kemungkinan kecelakaan, memperhitungkan jarak dan kecepatan sebelum memutuskan untuk menyalip kendaraan yang ada didepanku jika tidak ingin tertabrak kendaraan dari arah sebaliknya. Di jalan aku belajar membuat keputusan dengan memperhitungkan resources dan segala resiko yang mungkin timbul. Pengalaman bersepeda membuatkanku bisa memaknai arti kesabaran, semangat, kerja keras dan harapan. Sabar menjalani rute kehidupan yang berliku kadang naik kadang turun dan menjaga semangat untuk bekerja bekerja keras megayuh sampai ke tujuan yang diharapkan. Dari bersepeda aku terbiasa untuk selalu mengawali dengan doa sebelum berupaya dan mengakhiri dengan tawakal menyerahkan keselamatan sepenuhnya kepada Allah penguasa jiwa ragaku. Setelah puluhan tahun tahun melupakan kini setiap minggu pagi ku susuri jalanan kota maupun jalan-jalan desa yang makasih perawan. Bukan sekedar ingin belajar membuat keputusan atau memaknai arti kata kerja keras bukan pula sekedar merontokkan kolestrol dibadan tetapi lebih dari itu adalah wujud mencintai mencintai bumi dan ungkapan syukur pada Illahi.